Home Obat Herbal Ternak Daun Sambiloto Tangkal Aflatoksin

Daun sambiloto (Andragraphis paniculata Nees), yang dikenal sebagai bahan baku jamu mampu menghambat pertumbuhan aflatoksin. Titik cerah dalam penanggulangan cemaran kapang Aspergillus yang masih banyak terjadi di industri peternakan kita.

Siapa sangka daun sambiloto (Andragraphis paniculats Nees) yang lebih dikenal sebagai salah satu ramuan jamu tradisional ternyata mampu menangkal kapang Aspergillus flavus atau Aspergillus parasiticus, penyebab utama terjadinya Aflatoksin.

Tidak itu saja ekstrak daun sambiloto ini sangat dimungkinkan mampu menekan munculnya penyakit aspergillosis pada unggas. Ekstrak daun sambiloto 20 ml mampu menekan pertumbuhan kapang Aspergillus sp secara nyata. 

Adalah Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) Bogor yang merintis penelitian mengenai penggunaan daun sambiloto untuk menekan tumbuhnya A. flavus dan A. parasiticus. Dalam buku laporan tahunan Balitvet tahun 1997/1998 disebutkan adanya studi penanggulangan cemaran aflatoksin pada unggas. Studi penanggulangan pertumbuhan Aspergillus sp yang menjadi penyebab utama munculnya aflatoksin dengan ekstrak tanaman sambiloto. Penelitian ini merupakan sebuah terobosan yang sangat berarti terutama untuk menghasilkan komoditas – komoditas berkualitas. Problem aflatoksin terutama dalam pakan sering menimbulkan masalah tersendiri. Apalagi Indonesia sebagai negara tropis dengan suhu yang tinggi merupakan habitat yang paling ideal bagi pertumbuhan kapang. Padahal aflatoksin sangat ditabukan bagi komiditi – komoditi ekspor. 

Penelitian yang dilakukan Balitvet ini bahkan membandingkan tingkat efektivitas antara ekstrak daun, batang maupun akar dari tumbuhan yang sangat dikenal karena rasa pahitnya. Dalam penelitian-nya Balitvet mempersiapkan ketiga bahan tersebut untuk diketahui mana yang lebih banyak kandungan penghambat aflatoksin. Untuk itu 20 gr dari tiap – tiap bagian tanaman baik akar, batang maupun daun yang telah dikeringkan. Bagian - bagian yang telah kering kemudian diekstraksi dengan cara perkolasi menggunakan 50 ml akuades sehingga diperoleh konsentrasi 20 mg/ml. Namun dalam penelitian konsentrasi ekstrak sambiloto dibagi menjadi 3 yakni 10, 20 dan 30 mg/ml.

Untuk mengetahui tingkat kemampuan daya hambat ekstrak daun sambiloto maka digunakan percobaan laboratorium. Kapang toksigenik yakni A. flavus dan A. parasiticus ditumbuhkan pada media. Pada hari ke-6 dihitung jumlah spora kapang dengan cara pengenceran sampai mendapatkan suspensi kapang yang mengandung kapang 10 pangkat 6 spora/ml. Kapang yang telah disuspensi kemudian ditumbuhkan pada media yang telah dicemari larutan sambiloto 10, 20, 30 mg/ml. Campuran tersebut kemudian diinkubasi selama 10 hari dalam suhu kamar.

Hasil inkubasi tersebut kemudian diuji dengan kandungan aflatoksin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akar, batang dan daun sambiloto mampu menghambat pertumbuhan kapang secara nyata. Pertumbuhan A. flavus dihambat dengan lebih baik dibanding A.parasiticus. Dibandingkan dengan batang dan akar maka daun mempunyai kemampuan yang lebih baik dibanding yang lain. Dosis optimalnya adalah 20 mg/ml. Selanjutnya dilakukan penelitian lanjutan terhadap efektivitas dari sambiloto dalam menangggulangi kontaminasi aflatoksin, terutama dalam pakan.

Perlu diketahui bahwa aflatoksin dapat menyebabkan kerusakan pad jaringan hati. Untuk itulah perlakuan pemberian sambiloto ditujukan pada bahan pakan. Bahan pakan yang telah dicemari dengan A. flavus tersebut ditambahkan serbuk sambiloto dengan konsentrasi 0,04 %, 0,08 % dan 0,16 %. Kemudian bahan pakan tersebut diinkubasikan selama 10 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan sambiloto dapat menghambat pertumbuhan aflatoksin pada pakan yang terkontaminasi oleh kapang A. flavus. 

Serbuk daun sambiloto dengan konsentrasi 0,16 % pada pakan terbukti lebih efektif menghambat aflatoksin B, sebesar 4,5 %. Untuk pada ternaknya, serbuk sambiloto dengan kadar 0,08 % mampu mencegah terjadinya kerusakan hati mulai pada minggu ke-4 sampai berakhirnya penelitian ini. Hasil penelitian ini cukup memuaskan walaupun perlu tindak lanjut lebih jauh. Paling tidak perlu dicari solusi yang tepat dalam penggunaannya apakah menggunakan cairan atau serbuk ? Juga perlu diperhatikan yakni efek samping bagi ternak tersebut ? Namun bila menilik fungsinya pada pengobatan jamu tradisional maka nafsu makan ternak justru akan bertambah.

 

Maj INFOVET edisi 066 Januari 2000. Hal 32 – 33

Last Updated (Tuesday, 05 July 2011 05:23)

 
Share on Myspace
Who's Online
We have 1 guest online
Jakarta, Indonesia
Visitors since 03/09
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday30
mod_vvisit_counterYesterday95
mod_vvisit_counterThis week356
mod_vvisit_counterThis month2654
mod_vvisit_counterAll97193
Login